TUGAS BAHASA INDONESIA
WACANA

Kelompok 3 – IIA Manajemen
Disusun Oleh :
Rendi Herdiansyah 0211 12 004
Muhamad Ramdani 0211 12 012
Muhamad Fikri 0211 12 022
Intan Larasayu 0211 12 029
Nia Martiani 0211 12 039
Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan
2012/2013
PENDAHULUAN
BAB
I
1.1. Latar Belakang
Istilah wacana berasal dari
kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana adalah salah
satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti
halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak
mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada
yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada
juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh
banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik,
komunikasi, sastra dan sebagainya.
Realitas wacana dalam hal
ini adalah eksistensi wacana yang berupa verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan
verbal atau language exist (kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan
struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya; nonverbal atau language
likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa (rangkaian isyarat
atau tanda-tanda yang bermakna). Wujud wacana sebagai media komunikasi berupa
rangkaian ujaran lisan dan tulis. Sebagai media komunikasi wacana lisan,
wujudnya dapat berupa sebuah percakapan atau dialog lengkap dan penggalan
percakapan. Wacana dengan media komunikasi tulis dapat berwujud sebuah teks,
sebuah alinea, dan sebuah wacana.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran dalam makalah
ini,maka kami membatasi masalah-masalah yang akan dibahas diantaranya :
1.
Apa
itu wacana?
2.
Karakteristik wacana dalam berkomunikasi.
3.
Jenis wacana dalam berkomunikasi.
4.
Contoh-contoh wacana.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN WACANA
Wacana merupakan satuan
bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks
sosial.Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran.Wacana
dapat berbentuk lisan atau tulis
.
Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Istilah wacana berasal dari
kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Menurut Alwi, dkk (2003:42),
wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang
serasi di antara kalimat-kalimat itu. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma,
1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di
atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang
berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Lebih lanjut,
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau
rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan
secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari
unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap yang disajikan secara teratur
dan membentuk suatu makna.
2.2.
WACANA DAN FUNGSI BAHASA DALAM BERKOMUNIKASI
Wacana dengan unit
konversasi memerlukan unsur komunikasi yang berupa sumber (pembicara san
penulis) dan penerima (pendengar dan pembaca). Semua unsur komunikasi
berhubungan dengan fungsi bahasa (Djajasudarma, 1994:15). Fungsi bahasa
meliputi (1) fungsi ekspresif yang menghasilkan jenis wacana berdasarkan pemaparan
secara ekspositoris, (2) fungsi fatik (pembuka konversasi) yang menghasilkan
dialog pembuka, (3) fungsi estetik, yang menyangkut unsur pesan sebagai unsur
komunikasi, dan (4) fungsi direktif yang berhubungan dengan pembaca atau
pendengar sebagai penerima isi wacana secara langsung dari sumber.
2.3.WACANA
DAN KAJIAN DALAM BIDANG ILMU LAINYA
Kajian tentang wacana tidak
bisa dipisahkan dengan kajian bahasa lainnya, baik pragmatik maupun
keterampilan berbahas
Wacana dan Pragmatik
Pragmatik berhubungan dengan
wacana melalui bahasa dan konteks. Dalam hal ini dapat dibedakan tiga hal yang
selalu berhubungan yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis merupakan
hubungan antar unsur, semantik adalah makna, baik dari setiap unsur maupun
makna antar hubungan (pertimbangan makan leksikal dan gramatikal), dan
pragmatik berhubungan dengan hasil ujaran (pembicara dan pendengar atau penulis
dan pembaca)
2.4
HUBUNGAN GRAMATIKAL DAN
SEMANTIK DALAM
Hubungan antarproposisi yang
terdapat pada wacana (kalimat) dapat dipertimbangkan dari segi gramatika
(memiliki hubungan gramatikal) dan dari segi semantik (hubungan makna dalam
setiap proposisi)
·
Hubungan
Gramatikal
Unsur-unsur gramatikal yang
mendukung wacana dapat berupa.
a) Unsur yang berfungsi sebagai konjungsi (penghubung)
kalimat atau satuan yang lebih besar, seperti dengan demikian, maka itu,
sebabnya, dan misalnya.
b) Unsur kosong yang dilesapkan mengulangi apa yang telah
diungkapkan pada bagian terdahulu (yang lain) misalnya: Pekerjaanku salah
melulu, yang benar rupanya yang terbawa arus.
c) Kesejajaran antarbagian, misalnya: Orang mujur belum
tentu jujur. Orang jujur belum tentu mujur.
d) Referensi, baik
endofora (anafora dan katafora) maupun eksofora. Referensi (acuan) meliputi
persona, demonstratif, dan komparatif.
e) Kohesi leksikal dapat terjadi melalui diksi (pilihan
kata) yang memiliki hubungan tertentu dengan kata yang digunakan terdahulu.
Kohesi leksikal dapat berupa pengulangan, sinonimi dan hiponimi, serta kolokasi
f) Konjungsi merupakan unsur yang menghubungkan konjoin
(klausa/kalimat) di dalam wacana.
·
Hubungan
semantik
Hubungan
semantik merupakan hubungan antarproposisi dari bagian-bagian wacana. Hubungan
antarproposisi dapat berupa hubungan antar klausa yang dapat ditinjau dari segi
jenis kebergantungan dan dari hubungan logika semantik. Hubungan logika
semantik dapat dikaitkan dengan fungsi semantik konjungsi yang berupa (1)
ekspansi (perluasan), yang meliputi elaborasi, penjelasan/penambahan, dan (2)
proyeksi, berupa ujaran dan gagasan
·
Wacana
dan Keterampilan Berbahasa
Pembahasan
wacana berkaitan erat dengan pembahasan keterampilan berbahasa terutama
keterampilan berbahasa yang bersifat produktif , yaitu berbicara dan menulis.
Baik wacana maupun keterampilan berbahasa, sama-sama menggunakan bahasa sebagai
alat komunikasi.
2.5. KAREKTERISTIK WACANA
Wacana merupakan medium
komunikasi verbal yang bisa diasumsikan dengan adanya penyapa (pembicara dan
penulis) dan pesapa (penyimak dan pembaca).
1) Ciri-ciri Wacana
Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana.
Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut:
o
Satuan
gramatikal
o
Satuan
terbesar, tertinggi, atau terlengkap
o
Untaian
kalimat-kalimat
o
Memiliki
hubungan proposisi
o
Memiliki
hubungan kontinuitas, berkesinambungan
o
Memiliki
hubungan koherensi
o
Memiliki
hubungan kohesi
o
Rekaman
kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
o
Bisa
transaksional juga interaksional
o
Medium
bisa lisan maupun tulis
o
Sesuai
dengan konteks
o
Syamsuddin
(1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut.
o
Wacana
dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian
tindak tutur
o
Wacana
mengungkap suatu hal (subjek)
o
Penyajian
teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya
o
Memiliki
satu kesatuan misi dalam rangkaian itu
o
Dibentuk
oleh unsur segmental dan nonsegmental
2) Unsur Pembentuk Wacana
Wacana
berkaitan dengan unsur intralinguistik (internal bahasa) dan unsur
ekstralinguistik yang berkaitan dengan proses komunikasi seperti interaksi
sosial (konversasi dan pertukaran) dan pengembangan tema (monolog dan
paragraf).
3) Konteks dan Ko-teks
Wacana
merupakan bangunan semantis yang terbentuk dari hubungan semantis antarsatuan
bahasa secara padu dan terikat pada konteks. Ada bermacam-macam konteks dalam
wacana. Wacana lisan merupakan kesatuan bahasa yang terikat dengan konteks
situasi penuturnya. Konteks bagi bahasa (kalimat) dalam wacana tulis adalah
kalimat lain yang sebelum dan sesudahnya, yang sering disebut ko-teks.
4) Teks
Fairdough
(dalam Eriyanto, 2008:289) melihat teks dalam berbagai tingkatan. Sebuah teks
bukan hanya menampilkan bagaimana suatu objek digambarkan tetapi juga bagaimana
hubungan antarobjek didefinisikan. Setiap teks pada dasarnya, menurut Firdough
dapat diuraikan dan dianalisis dari ketiga unsur tersebut.
|
Unsur
|
Yang ingin dilihat
|
|
Representasi
|
Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi,
keadaan, atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
|
|
Relasi
|
Bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan
partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
|
|
Identitas
|
Bagaimana identitas wartawan, khalayak, dan
partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
|
2.6.
JENIS-JENIS WACANA BAHASA
INDONESIA
Berdasarkan bentuk atau
jenisnya, wacana dibedakan menjadi empat
yaitu sbb:
1. Wacana Narasi
Narasi
adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa.
Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif.Unsur-unsur
penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur/plot, serta
latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.
2.
Wacana Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang
menggambarkan/suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan
pengalaman penulisnya.Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis
merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.Dilihat dari sifat objeknya,
deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi Imajinatif/Impresionis dan
deskripsi faktual/ekspositoris.
3. Wacana Eksposisi
Karangan
eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci
(memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas
pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada
karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar,
simposium, atau penataran.Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan
objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan
data atau bahan, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi
karangan.Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola
penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan antiklimaks.
4.
Wacana
Argumentasi
Karangan
argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap
suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan
yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan
kebenaran pendapat pengarang.Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu
menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan,
mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang
mendukung, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi
karangan.Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat,
akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.
2.7. MENURUT DJAJASUDARMA (1994:6), JENIS WACANA
DAPAT DIKAJI DARI SEGI EKSISTENSINYA (REALITASNYA), MEDIA KOMUNIKASI, CARA
PEMAPARAN, DAN JENIS PEMAKAIAN
A. Realitas Wacana
Realitas
wacana dalam hal ini adalah eksistensi wacana yang berupa verbal dan nonverbal.
Rangkaian kebahasaan verbal atau language exist (kehadiran kebahasaan)
dengan kelengkapan struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya; nonverbal
atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa
(rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna)
B. Media Komunikasi Wacana
Wujud
wacana sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran lisan dan tulis.
Sebagai media komunikasi wacana lisan, wujudnya dapat berupa sebuah percakapan
atau dialog lengkap dan penggalan percakapan. Wacana dengan media komunikasi
tulis dapat berwujud sebuah teks, sebuah alinea, dan sebuah wacana.
C. Pemaparan Wacana
Pemaparan
wacana sama dengan tinjauan isi, cara penyusunan, dan sifatnya. Berdasarkan
pemaparan, wacana meliputi naratif, prosedural, hortatori, ekspositori, dan
deskriptif.
D. Jenis Pemakaian Wacana
Jenis
pemakaian wacana berwujud monolog, dialog, dan polilog. Wacana monolog
merupakan wacana yang tidak melibatkan bentuk tutur percakapan atau pembicaraan
antara dua pihak yang berkepentingan. Wacana yang berwujud dialog berupa
percakapan atau pembicaraan antara dua pihak. Wacana polilog melibatkan
partisipan pembicaraan di dalam konservasi.
2.8 CONTOH WACANA
A.
WACANA NARASI
Biasanya
orang singgah ke restoran ingin mencari makanan enak, mereka ingin
mengenyangkan perut yang lapar dengan menyantap hidangan yang tersedia.
Namun
demikian, pengunjung sekarang mulai datang ke restoran dengan tujuan lebih
variatif. Mereka ke restoran tak lagi sekedar mengenyangkan perut tapi juga
berusaha “mengenyangkan” mata.
Di tengah
hiruk pikuk bisnis restoran, ada sebagian orang yang menjadikan pergi ke tempat
makan sebagai gaya hidup. Para pebisnis makanan pun rupanya jeli dengan adanya
kalangan tertentu ini.
Pengusaha
restorans tak lagi sekedar menyediakan menu makanan enak bagi pengunjung. Akan
tetapi menyediakan fasilitas lain seperti arena untuk bernyanyi, panggung
hiburan yang menampilkan acara live music. Hingga menggelar program-program
acara tertentu yang diadakan sewaktu-waktu untuk menghibur pengunjung.
Dengan
adanya inovasi tadi maka jumlah pengunjung pun dapat terdongkrak. Sehingga roda
usaha bisnis restoran terus bergerak.
Salah satu
cara agar pengunjung mendapatkan sesuatu yang baru ialah dengan mendesain
inding restoran agak berbeda misalnya dengan memajang berbagai lukisan di
dinding restoran.
Memajang
lukisan sebagai salah satu bagian dari interior restoran, kini menjadi tren
baru beberapa restoran. Kalau dulu untuk menikmati sebuah karya seni orang
perlu mengunjungi sebuah galeri lukisan, sekarang seiring dengan perubahan
zaman, cukup datang ke restoran, duduk santai dan rileks orang bisa enjoy
menikmati karya seni.
Ternyata adanya restoran yang
mengakomodasi karya seniman lokal menjadi inspirasi
B.
WACANA DESKRIPSI
SMA ku Masa
Depanku
SMA Negeri 1 Kota Sukabumi merupakan
SMA tertua di Kota Sukabumi. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi lahir pada bulan
Oktober 1961.
SMA Negeri 1 mempunyai
jumlah murid kurang lebih 1.500 siswa dan mempunyai 4 lapangan, yaitu lapangan basket,
lapangan volly, lapangan sepak bola, dan lapangan badminton. Luas Smansa kuarng
lebih 3 hektare dan memiliki 37 kelas serta 71 guru mata pelajaran. Smansa juga
memiliki kantin yang begitu banyak.
Ketika bel istirahat berbunyi, kanti
di Smansa sangatlah ramai hingga siswa-siswi pun harus berdesak-desakan untuk
membeli makanan. kantin Smansa menjual bermacam-macam makanan seperti gorengan,
mie ayam, bas juice, dan masih banyak lagi Ketika kantin ini ramai, suasaana
pun menjadi sangat panas, berisik dan kotor. Kantin di Smansa sungguh sempit
sedangkan muridnya sangatlah banyak, sehingga kantin ini pun menjadi
hiruk-pikuk.
C.
WACANA EKSPOSISI
Yang Kedua bagi American Airlines
Jatuhnya pesawat berkapasitas 266
penumpang airbus A300- 600 merupakan peristiwa kedua bagi American Airlines
beberapa detik lepas landas dari bandar udara internasional O’Hare Chicago,
tiba-tiba mesin kiri lepas dari dudukannya. Pilot tidak bisa mengendalikan
pesawat akibat keseimbangan pesawat mendadak berubah dengan jatuhnya mesin
berbobot sekitar 5 ton. Pesawat mendarat dan menghujam tempat parkir kendaraan
31 detik kemudian dan 271 penumpang plus awak tewas seketika. Kecelakaan lain
menyangkut mesin copot dialami oleh pesawat kargo El-Al milik flag carier
Israel, 4 Oktober 1992. Mesin nomor empat atau yang paling ujung pada sayap
kanan, tiba-tiba lepas akibat dua fuse-pin (baut kedudukan mesin) lepas.
Disusul kemudian oleh mesin nomor tiga. Mendadak kehilangan dua mesin, pilot
tidak dapat mengendalikan pesawat dan menabrak gedung bertingkat di Amsterdam,
Belanda. Empat awak tewas berikut 47 penghuni flat yang ditabrak.
Sumber:
Kompas, 15 November 2001
D.
WACANA ARGUMENTASI
PENGARUH NARKOBA TERHADAP PERKEMBANGAN GENERASI BANGSA
Dewasa ini
narkoba menjadi masalah serius di belahan dunia manapun. Banyak kasus
narkoba yang susah diselesaikan. Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan
Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah zat yang jika dimasukkan dalam tubuh
manusia, baik secara diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah
pikiran, suasana hati atu perasaan, dan perilaku seseorang. Menurut UU No. 22
Tahun 1997 tentang narkoba yaitu, zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis. Zat tersebut menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan rasa, mengurangi hingga
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Seperti
namanya, narkoba terdiri atas tiga macam, yaitu :
1.
Narkotika. Yang termasuk narkotika, yaitu : Tanaman
papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing,Ø jicingko),
opium obat, morfina, kokaina, ekgoniana, tanaman ganja, dan damar ganja. Garam-garam
dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, sertaØ
campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
2.
Psikotropika, antara lain: Sedatin (Pil BK), Rohypnol,
Magadon, Valium, Mandarax,Ø Amfetamine, Fensiklidin,
Metakualon, Metifenidat, Fenobarbitol, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD
(Lycergic Alis Diethylamide), dsb.
3.
Adiktif berbahaya lainnya, yaitu : Alkohol yang
mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahanØ pelarut) berupa zat organik
(karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman
beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh : lem/perekat,
aceton, ether, dsb.
Adapun narkoba menurut efeknya
dibagi menjadi tiga, yakni :
1.
Depresan, yaitu menekan sistem syaraf pust. Contohnya
: opioda dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin, serta putaw.
2.
Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
kegairahan serta kesadaran. Contoh : Kafein, Kokain, Amphetamin, Shabu-shabu
dan ekstasi.
3.
Halusinogen, mengubah daya persepsi atau mengakibatkan
halusinasi. Contoh: mescaline dari kaktus, psilocybin dari jamur-jamuran, LSD,
dan ganja.
Saat ini,
narkoba telah menjamur pada lingkungan remaja. Hal ini sungguh menjadi ancaman
yang berbahaya bagi bangsa Indonesia. Sianipar (2004) mengatakan bahwa
berdasarkan survey nasional penyalahgunaan narkoba yang dilaksanakan oleh Badan
Narkotika Nasional (BNN) terhadap 13.710 responden yang terdiri dari pelajar
SLTP, SLTA dan mahasiswa diperoleh data bahwa dalam setahun terakhir terdapat
3,9% responden yang menyalahgunakan narkoba. Terdapat banyak motivasi dan
penyebab orang mengonsumsi narko antara lain:
1.
Untuk merasakan kesenangan, menimbulkan percaya diri,
merasakan kepuasan dan relaksasi.
2.
Untuk merasa lebih baik, menghilangkan stress dan
depresi.
3.
Meningkatkan kinerja tubuh
4.
Rasa ingin tahu.
5.
Gengsi kepada teman
6.
Lari dari masalah.
Namun pada
hakikatnya, bila narkoba digunakan terus-menerus maka akan mengakibatkan
ketergantungan. Hal ini akan mengakibatkan gangguan fisik, seperti : gangguan
pada system syaraf, gangguan pada jantung dan pembuluh darah, gangguan pada
kulit, gangguan pada paru-paru, sering sakit kepala, mual-mual dan muntah,
murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur, penurunan
fungsi hormon reproduksi dan gangguan fungsi seksual, perubahan periode dan
ketidakteraturan menstruasi, amenorhoe (tidak haid), hepatitis B dan C, HIV,
dan terakhir kematian. Adapun gangguan psikis, seperti : lamban kerja, ceroboh,
tegang dan gelisah, pesimis, apatis, pengkhayal, penuh curiga, menjadi
berutal/ganas, sullit konsentrasi, perasaan kesal dan tertekan, dan sering
menyakiti diri sendiri. Selain itu ada pula dampak sosial, seperti : gangguan
mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan, menjadi beban keluarga, dan masa
depan menjadi suram.
Sulit bagi
seseorang untuk melepaskan diri dari ketergantungan akan narkoba. Hal itu harus
dimulai dari kesadaran si pemakai dan kemauan yang kuat, serta didukung dari
orang yang ada disekitarnya.
Sedangkan
untuk menghindari narkoba kita disarankan untuk lebih mendekati diri kepada
Tuhan dan menyadari akibat yang akan diterima jika memakai narkoba.
Dari uraian
diatas, penyalahgunaan narkoba sanyat berbahaya bagi fisik, psikis, maupun
hubungan sosial kita. Sebagai remaja kita harus menjauhkan diri dari narkoba
demi kebaikan kita dan negara kita tercinta, karena masa depan bangsa kita ada
dipundak kita.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang
bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak
disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. .
Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak
mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada
yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada
juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh
banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik,
komunikasi, sastra dan sebagainya.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat
yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial.Satuan bahasa itu dapat
berupa rangkaian kalimat atau ujaran.Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis .
3.2. SARAN
Mahasiswa di tuntut untuk lebih dalam mempelajari
pelajaran Bahasa Indonesia. Karena dengan itu dapat menambah wawasan
kita. Misalnya dalam pembuatan suatu wacana, kita tidak keliru lagi.
Lebih memahami unsur-unsur yang menyangkut tentang wacana.
DAFTAR PUSTAKA
·
Djajasudarma, Fatimah. 1994. Wacana: Pemahaman dan
Hubungan Antarunsur. Bandung: Eresko.
·
Eriyanto. 2009. Analisis Wacana: Pengantar Analisis
Teks Media. Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang.
·
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008.
Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
·
Syamsuddin A.R. 1992. Studi Wacana: Teori-Analisis
Pengajaran. Bandung: FPBS IKIP Bandung.